Jumat, 04 Oktober 2013

NAMAKU RENA


NAMAKU RENA

         Tinggal berapa hari, aku akan pindah sekolah lagi. Aku sudah 30 kali pindah sekolah. Entah kenapa, banyak sekolah tidak mau menerimaku. Apa aku salah ? apa aku nakal ? apa aku aneh ? banyak pertanyaan yang aku tanyakan pada diriku sendiri. “Hei, Rena, kamu dari tadi bicara sendiri. Normal sedikit dong !” bentak kakakku sambil berbicara keras didepanku. Aku hanya tersenyum tanpa tangisan sedikit pun. Karena setiap aku dimarah, aku tidak pernah menangis. Malah, aku tak pernah menangis walau hanya 1 kali. Dari bayi juga aku tidak menangis. Kenapa yah ? memangnya, perasaan saat menangis seperti apa ? aku penasaran. Lalu, aku biasa disebut Autis disekolah. Autis itu apa yah ? dan orang-orang bilang aku selalu memiring-miringkan kepalaku setiap aku berjalan di setiap jejak. Ada apa sebenarnya denganku ?
       sekarang, aku sedang makan di ruang makan. Aku suka makan ayam. Lalu, kakakku melihatku dengan tatapan tajam yang berusik ketebalan hati yang kejam. Aku selalu tersenyum setiap dia melihatku. Tapi, dia langsung menoleh kebelakang. Setelah makan, aku langsung menemaninya menonton. Tapi, dia langsung mendorongku kebelakang dan terjatuh. Aku hanya terdiam dan tak merasa sedih. “Hey, kamu itu jangan sembarang ambil tempat duduk ! ini tempat duduk aku !” dengan kejamnya, dia langsung pergi dan menendang kursi yang kutempati tadi. Tapi, aku tidak berkata sepatah kata pun. Apa yang salah denganku ? aku juga ingin minta maaf kepadanya. Tapi, tidak pernah bisa. Aku pun berlari ke kamar dan langsung menutupi badanku dengan selimut hangat favoritku yang bergambarkan bintang-bintang. Bagiku, itu sangat lucu. Dan aku pun tertidur pulas dan bermimpi, apa yang akan terjadi besok ?
       pagi hari, ku buka jendela dan menerima sinar matahari yang begitu silau dan cerah yang langsung kuterima masuk ke dalam ruanganku. Tapi, sekarang jam 6 pagi. Berarti, waktunya untuk pergi ke sekolah baruku. Aku langsung berlari kesana-sini tanpa ada rasa pikir apa yang harus kulakukan dahulu. “Hei, cepatlah Rena, kamu nanti terlambat” kata ibu yang lembut langsung memerintahkanku dengan kasih sayang. Lalu, aku mandi,menyiapkan buku,sarapan, dan bersiap untuk pergi. Setelah itu, supirku sudah ada di mobil yang sudah siap siaga untuk mengantarku dengan setia. Aku menaiki mobil dan tanpa salam kuucapkan untuk ibu dan kakak. Tapi, aku memberi salam dari hati. Karena menurutku, berbicara sangat rumit bagiku. “Non Rena sudah bawa bekal ?” aku mengangguk iya dengan pantulan cermin yang ada disamping supir. Supaya lebih mudah. Setelah itu, aku melihat sekolah baruku didepan mataku. LEMON HIGH SCHOOL. Mudah-mudahan, sekolah ini dapat menerimaku. Aku tidak mau lagi dikeluarkan dari sekolah. Aku sudah takut dengan hal semacam itu. Mudah-mudahan tidak terjadi. Berlari dan menutup pintu mobil dengan melambaikan tangan kepada supirku pak Alvin, dia tersenyum gembira. Lalu, aku menaikki tangga ke ruang kepala sekolah yang begitu luas dan bertemu salah satu guru disitu. “Selamat pagi, adik ini dengan adik siapa ?” aku tak bisa berbicara. Jadi aku hanya bisa memakai bahasa tubuh. Tapi, dia langsung mengerti dan tau apa yang kukatakan dengan bahasa tubuh. “kamu pasti dengan adik Rena Juice kan ?” lalu, aku kagum dengan ibu guru yang ada didepanku ini. Kenapa dia bisa tau ?
        ibu ini mengantarku ke sebuah kelas. Yang bernama kelas 1-G. Setelah ku-masuk, ada banyak orang yang menungguku. Entah kenapa, mereka sebuah mengatakan “Selamat pagi Teman !” aku merasa heran. Tapi, aku sangat gembira dengan sapaan seperti itu. Lalu, aku maju di depan mereka dengan didampingi ibu guru yang baik hati ini. “jadi, teman-teman, kita punya teman baru. Namanya Rena.” Semua langsung mengatakan “Hai Rena !!” aku kaget dengan semua salam pembuka ini. Begitu berbunga-bunga hatiku. Dan Ibu guru disampingku menjelaskan identitas diriku secara rinci dengan singkat. Lalu, Ibu ini memberiku tempat duduk di barisan ke-3 sebelah kanan. Aku sangat senang diperlakukan seperti ini. Mudah-mudahan, aku punya banyak teman di sekolah ini.
        Panas matahari yang silau menatapku dengan lipatan pencerahan dalam diriku inilah yang dapat membuatku semangat bersekolah disini. Lalu, aku melihat mereka melakukan hal yang seperti biasa setiap hari. Hal yang wajar dilakukan para siswa. Mereka selalu menyapa dan memberi salam setiap bertemu. Tapi, disekolah ini, ada mata pelajaran yang namanya pelajaran Pembina. Dan pelajaran Pembina itu akan dilaksanakan setiap hari sabtu yang paling akhir. Dan aku tidak tau itu pelajaran apa. Mungkin, aku bisa bertanya kepada teman-teman. Tapi, aku tetap tak bisa berbicara. Jadi, bagaimana bisa aku tau. Lalu, aku memakan bekal dari rumah buatan Ibuku yang dibuat dengan senang hati. Nasi gorengnya begitu enak. Sampai aku ingin minta tambah. Ketagihan memakannya. Setelah aku makan, aku keluar dari kelas dan berjalan ke seluruh sisi sekolah. Sekolahnya begitu luas. Dan aku tak tau aku sudah dimana. Lalu, ada seseorang menolongku. Dia datang dan mengantarku ke kelas 1-G. Tapi, dia tidak memberitahu namanya. Tapi, dia ada dikelas 1-A. Mungkin, aku akan pergi ke kelasnya lain kali. Suara seruan yang unik datang dari kelasku. Dan aku melihat,mereka sedang bermain. Tapi,aku tidak ikut. Karena aku lambat. Kelas ini seperti ada yang aneh. Anak-anaknya seperti diriku. Mereka seperti kehilangan kontrol, dan juga Hyperactive. Dan aku tak tau maksud kelas ini. Yaitu kelas 1-G.
        Pulang dari sekolah, angin menembus diriku seperti tusukan pedang yang transparan. Lalu, aku mengerjakan PR dirumah tanpa ada bantuan siapapun. Tapi, aku dapat mengerjakannya dengan mudah. Karena memang, aku suka pelajaran Matematika. Aku sangat senang pelajaran Matematika, nilai-ku selalu 100. Tapi, bukan hanya aku. Hampir semua di kelasku memiliki nilai 100 atau sempurna dalam pelajaran Matematika. Memangnya, ada apa dengan kelas 1-G ? seperti ada yang aneh. Atau mungkin, ada hubungannya dengan diriku ?.
        Goes to School Again, aku sekarang ada di LEMON HIGH SCHOOL lagi. Begitu senangnya. Sekolah ini penuh dengan kegembiraan. Semuanya menyapaku. Dan juga memberi salam. Aku sangat penasaran pelajaran Pembina itu. Hari ini hari Jumat. Besok akan ada pelajaran Pembina. Mungkin, aku bisa mempelajari dengan senang hati. Saking penasarannya, aku sampai lompat-lompat kesana dan kesini dengan pipi merah yang gendut. Lalu, aku melihat kelas 1-A,B,C dan seterusnya. Semua kelasnya seperti biasa, atau bisa dibilang Normal. Tapi, kelas 1-G lebih berbeda. Anak-anaknya berbeda dengan kelas lain. seseorang mendatangiku dan berkata, “Eumm, kamu kan yang kemarin, namamu Rena kan ? salam kenal. Aku Budi.” Dia berkata seolah ingin memperkenalkan dirinya. Lalu, aku mengangguk karena tidak bisa berbicara. “Ohh, kamu tidak bisa berbicara yah...? baiklah. Eumm, kamu tau tidak bedanya kelas 1-G dengan kelas Lainnya ?” aku kaget dan ingin bertanya kembali mengenai itu. Lalu, aku mengangguk kembali. Dan dia menjawab, “kalau kelas 1-G itu adalah kelas Spesial. Yang anak-anaknya Autis dan Hyperactive. Tapi, nilainya tidak kalah dengan kelas Lainnya. Aku terkagum-kagum mendengarnya tentang hal itu. Aku juga ingin pindah ke kelas itu. Tapi, aku tidak autis. Jika saja autis, aku pasti dikelas itu.” Dia mengatakan sejujurnya bahwa kelas 1-G itu hanya untuk para anak autis. Tapi, kelas lain tetap menghargai kami sebagaimana anak biasanya.
        Hari sabtu, hari yang kuingin-inginkan. Akkhirnya datang juga. Setelah menunggu ketiga pelajaran selesai, pelajaran Pembina telah dimulai. Aku melihat seorang guru wanita berdiri tegak didepan kami semua dan mengatakan Selamat pagi. Kami semua membalas salam tersebut. Aku hanya ingin tau materi pembelajaran ini. Lalu, aku memperhatikan materi yang dijelaskan ternyata, materi ini mengenai pembelajaran tentang anak autis dalam bersikap normal. Aku ditanya oleh Ibu Karen (Ibu yang mengajari pelajaran Pembina) bagaimana caranya berbicara. Lalu, aku juga tak bisa menjawab karena aku tak tau berbahasa. Tapi, Ibu Karen mengajariku satu per-satu dari huruf Alphabet, mengeja, mengucapkan, sampai cara berbicara. Dengan metode ini, aku sudah mengerti cara berbicara yang benar. Karena waktu TK, aku tidak pernah mengerti cara berbicara atau bersosialisasi. Tidak tau apa alasannya. Tapi, pembelajaran ini dapat membuatku lebih bersemangat dan menambah ilmu untuk menjadi Normal. Mudah-mudahan, kakak akan menjadi lebih baik kepadaku karena pembelajaran ini.
        “aku puelang...!!!” kataku dan berteriak. Ibu dan kakak terkaget-kaget mendengar ucapan itu. Sampai masih belum percaya yang mengucapkan itu adalah aku. Mereka berdua hanya menatapku sebatas tatapan biasa saja. Tapi, tatapan itu penuh dengan sesuatu yang tak terduga. Sampai didepan kamarku, aku merasa pusing dan seperti kehilangan akal. “Aduh..!” rasa sakitnya semakin bertambah. Ada apa ini ?. padahal, hari ini tidak terjadi sesuatu padaku. Aku melihat Ibu dan kakak mendekatiku dan menggendongku ke suatu tempat. Aku melihatnya masih dengan keadaan buram. Aku pingsan dan hilang akal. Apa yang terjadi padaku ?.
        Hari ini hari yang cerah. Panas matahari yang silau dengan pancaran sinarnya yang begitu terang memantul ke arahku seolah aku seperti tak berdaya. Tapi, memang, sekarang ini aku sedang tidak berdaya. Dan yang lebih baik, syukur aku ada dirumah. Bukan dirumah sakit yang punya banyak pasien yang membuatku sakit kepala. Tapi, aku melupakan sesuatu hal. Hal yang berhubungan dengan kondisiku sekarang ini. Oh ya, aku jatuh dan kakak dan Ibu menggendongku ke suatu tempat, sepertinya, tempat itu seperti ruang dokter. Mungkin, aku habis diperiksa oleh dokter dan akhirnya, aku hanya dibawa kerumah karena penyakitku belum terlalu memberi dampak yang parah. Jadi, aku hanya bisa dirawat dirumah.
        Suara jejak kaki mendekat dan mendekat. Dan akhirnya sudah ada didepan pintu kamarku. Dia membuka pintu dan kulihat,ternyata ibu. Ibu datang dengan wajah sedih. Apakah itu ?. lalu, seolah-olah Ibu seperti ingin mengatakan sesuatu. “Rena, kamu tau tidak, salah satu penyakit yang kamu miliki adalah penyakit Anemia. (meneteskan air mata) tapi, ada sesuatu yang Ibu ingin katakan kepadamu. mulai besok, kamu akan dirawat dirumah sakit karena penyakit Anemia-mu semakin parah dan rumah sakit akan bertindak secara cepat mengenai penyembuhannya Rena. Karena kamu kan mudah capek, jadi, Anemia yang kau derita itu akan datang secara sendirinya. Jangan sedih yah Rena.” Sambil mengelus rambutku dan aku masih merasa sedih mengenai hal itu atas penyakitku. Padahal, lusa, akan ada lomba cerdas cermat matematika. Masih bisakah aku mengikuti kompetisinya ?
        Aku melihat kakak yang sedang memikirkan sesuatu yang sedih. Padahal, biasanya dia menghinaku. Ada apa dengannya ?. lalu, aku mendekatinya dan menatapnya. Tapi, dia tidak marah sama sekali kepadaku. Aku pun pergi ke ruang makan tapi tidak ada makanan sama sekali. Jadi, aku pergi ke teras rumah dan melihat bintang-bintang di langit. Sebenarnya, ada apa denganku sekarang ini ?. Ya Allah, tolong aku untuk mencari jalan keluar dari semua permasalahan ini. Tapi aku belum tau jelas mengenai permasalahan apa ini. Lalu, aku melihat seorang nenek lewat didepan rumah dan memanggilku dengan tangan kanannya. Aku takut dan gemetar. Tapi, semakin aku menjauh darinya, dia semakin melotot. Dan bermata tajam. Lalu, aku perlahan-lahan mendekatinya. Dan dia mengajakku berjalan ke suatu tempat. Lalu dia mulai berbicara padaku, “Siapa namamu Nak ?” lalu aku menjawab, “Niamako Rena” aku masih saja berbicara kurang jelas. Tapi, nenek ini mengerti apa yang kukatakan. “Rena, boleh kau ikut aku sebentar ?” lalu, aku menjawab, “Tiapi nek, kemana ?” dia tak langsung menjawab melainkan hanya diam tanpa batas. Lalu, ada sebuah taman yang besar didepanku yang penuh dengan bunga-bunga berwarna. Tapi, aku masih tidak mengerti mengapa nenek membawaku kesini ?. hembusan angin malam yang dingin membuatku ingin tertidur tapi aku masih diluar rumah. Dan aku belum meminta izin kepada Ibuku untuk pergi keluar. Dan mungkin, mereka akan lebih khawatir. “Nek, ako Huarus Polang. Karena nanti, ibu aku khawatil.” Tapi nenek ini memegang tanganku dan memberiku tempat duduk yang panjang. Dan nenek ini mulai berbicara kepadaku, “Rena, Nenek hanya akan memberitau sesuatu bahwa, hal yang kau bisa lakukan, lakukanlah sebaiknya. Dan penyakit yang kau derita itu,nenek yakin kau pasti akan sembuh. Dan lomba yang kau ingin ikuti itu, kau juga bisa mengikutinya. Tapi dalam 1 hal, kau bisa melakukakan semua itu dengan caramu sendiri atau carilah jalan keluar agar bagaimana kau bisa berpihak pada keduanya.” Lalu, nenek ini tau semua yang ada dalam benakku. Memangnya, nenek ini siapa ?. aku berbalik kepadanya dan dia menghilang begitu saja. Rasaku aneh terhadap semua ini. Tapi, hal-hal yang dikatakan kepadaku itu benar. Aku akan terus mencobanya untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Walau aku autis, aku pasti bisa. Aku pasti bisa melakukannya.
        Aku tidur di tempat tidur yang empuk dan didampingi oleh alarm jantung yang terus berbunyi. Aku masih pusing dan aku tidak tau harus melakukan apa. Tapi, besok adalah harinya. Hari dimana lomba cerdas cermat matematika akan dimulai. Melihat jendela dengan lirikan hujan yang menatap sedih di pintu kegagalan, aku seperti merasa sangat menyesal. Karena kenapa sampai aku dirawat dirumah sakit ? aku tidak mau dirumah sakit seperti ini. Seperti orang lemah saja. Aku hanya mau dirumah. Aku hanya ingin belajar lebih giat lagi di sekolah dan memenangkan lomba cerdas cermat. Tapi, impian itu semua tidak berhasil. Aku menangis dalam hati dan beberapa menit kemudian, aku mengeluarkannya setetes demi setetes. Lalu, aku menutup mata dan tertidur nyenyak dan memimpikan jika hal kemenangan itu terjadi.
        Suara usik membangunkanku tak tau asalnya dari mana. Tapi, suaranya semakin keras dan semakin terdengar. “Adik Rena, Bangun dek. Waktunya makan. Setelah itu, minumlah obatnya.” Ternyata suster yang merawatku tadi pagi. Dan juga yang memasang impus tadi. Lalu, aku terbangun dan langsung duduk dan makan makanan yang ada di meja sampingku yang berwarna biru. Kenapa hari ini aku lemas sekali ? ada apa denganku ? aku merasa, aku kekurangan darah. Aku pusing. Aku terjatuh dari tempat tidur dan memegang kepala dan memberantakkannya. Rambutku berantakan karena itu. Lalu, dokter dan suster datang untuk mengantisipasi dan aku tertidur lagi. Apa yang harus kulakukan jika terus seperti ini ?
        Sekarang jam 8 malam sedangkan tadi jam 4 sore. Aku tidur hanya memakan banyak waktu saja. Aku seperti orang gila berdiam disini. Aku juga belum makan. Tapi, aku melihat sup ayam dan nasi disampingku sudah tersedia diatas meja. Dengan tambahan ayam goreng super pedas. Lalu aku mencicipinya. Begitu enak. Senyuman simpul muncul dari bibirku. Aku tak tau kenapa, baru kali ini aku merasa masakan yang sangat lezat seperti ini. Lalu, ku minum obatku dengan catatan tertempel di botol obatnya. Tertulis –minumlah ini 3 kali sehari. Semoga cepat sembuh *Ibu- ternyata ini ibu. Memangnya, ibu dan kakak kemana ? kenapa meninggalkanku sendirian ?. aku merasa bosan disini. Jadi, aku pergi keluar dan melihat banyak orang yang sedang menjenguk, sedang melapor, sedang sakit, dan ada juga yang sedang tidur di ruang tunggu. Ternyata, disini juga banyak orang. Kukira, rumah sakit ini kurang dikunjungi pengunjung yang berobat. Tapi, aku terus memegang janji nenek yang kutemui lalu, lakukanlah sebisamu. Aku pasti bisa melakukannya. Besok, adalah tujuanku. Hari dimana aku harus bisa melakukan keduanya. Apakah aku bisa mengikuti cerdas cermat matematika atau tidak ? aku berdoa, agar aku bisa memecahkan permasalahan ini. Tapi bagaimana caranya ? sedangkan aku ada dirumah sakit dan aku sekarang tak berdaya. Sedangkan cerdas cermat matematika akan dimulai tepat jam 10 pagi. Apakah aku harus kabur ? ya. Itu satu-satunya jalan untuk aku keluar. Tapi, bukankah itu salah ?. Aaaa.... aku terlalu banyak berpikir. “Adik Rena sekarang sudah boleh tidur ? jangan sampai kemalaman. Nanti, tambah sakit lho.” Ujar suster yang ada dibelakangku. Lalu aku mengangguk iya dan dia mengantarku ke ruanganku sebelumnya.
        Suara merdu dari burung-burung terdengar sampai ke dalam ruanganku. Begitu indahnya sampai aku terbangun dan melihat keadaan sekitar. Sekarang jam 6 pagi. Dan aku masih ada di ruangan ini yang begitu dingin karena pengaruh AC. Tapi, aku masih mengingat bahwa hari ini akan dimulainya cerdas cermat matematika. Tapi, apa yang harus kulakukan sekarang ?. apakah aku mandi dulu ?. setelah kuputuskan bahwa aku harus mempersiapkan diriku terlebih dahulu. Aku mengambil secarik kertas dan buku cetak matematika dan membacanya per halaman. Lalu, setelah itu aku mandi dan mengganti baju pasien ini menjadi baju putih. Jam 7 tertera di jam dinding sekarang. Aku sudah menyiapkan tas, memakai sepatu, dan lainnya. Lalu, kubuka pintu keluar dan berjalan menjinjit melewati suster yang sedang merapikan meja. Dan akhirnya kudapat tangga untuk turun ke lantai 1. Aku berjalan tanpa ada suara, dan melihat di sekitarku, apa adakah seseorang mengawasiku ?. aku akhirnya sampai di lantai 1. Dengan perjuangan setengah keringat ini, bisa dibilang juga perjalanan yang lumayan. Padahal hanya sebatas menuruni tangga. Jejak kaki yang terus bergerak melewati satpam penjaga rumah sakit dan syukur dia tidak melihatku. Tapi, satpam itu menoleh ke arahku dan akhirnya dia melihatku. Lalu pak satpam mengejarku tanpa arah dan mengatakan, “Ada pasien kabur...!!!” aku semakin gemetar dan berlari menuju tengah jalan tapi, aku tak melihat kendaraan akan lewat didepanku. Lalu, aku mendegar bunyi sesuatu yang sangat nyaring dari belakang. Dan Ternyata,,
       Aduh, sakit !!. sangatlah perih. Aku kenapa ?. tapi, aku bisa bernapas, tidak pusing, tapi hanya sakit di bagian mata. Lalu, ku buka perlahan-lahan mataku. Sepertinya biasa saja. Tapi, seperti ada yang lengket di dalamnya. Aku kenapa ?. aku mencari cermin untuk melihat kondisi wajahku. Ada apa dengan wajah dan mataku sekarang ini ?. dan cermin itu ada di dalam lemari biru yang tepat ada disampingku. Lalu, ku lihat wajahku. Dan melihat mataku sepertinya lain dengan yang satu. Yang bagian kiri berwarna coklat. Dan bagian kanan berwarna biru. Kalau tidak salah, yang mempunyai mata berwarna biru, itu kakakku. Kakak Liana. Lalu, aku pergi ke semua ruangan. Tapi, aku tidak menemuinya. Dan yang terakhir, ruang operasi. Saat kubuka, ada ibu dan kakak Liana saling berbicara dan ditambah senyum mereka masing-masing yang mereka berdua perlihatkan kepadaku. Aku tidak bisa menahan lagi. Aku menangis dan memeluk kakak Liana dan ibu. Mereka berdua hanya tersenyum dan berbicara kepadaku. “Rena, kamu tidak apa-apa kan ?” kata ibu dengan sentuhan halusnya menyentuh rambutku. “Iya bu, aku tidak apa-apa.” Aku menjawab dengan muka sedih dengan tatapan polos. Lalu, kakak Liana langsung meneruskan, “Eh Rena, kamu itu sebenarnya ndak usah pergi keluar sana. Akhirnya, matamu kan yang jadi bahaya. Kamu nggak kasihan lihat kakak seperti ini yang sudah memberi satu mata kepadamu ? sudah tidak berterima kasih lagi.” Bentak kakak yang memarahiku tanpa batas dengan jiwa yang penuh dengan emosi seperti gunung berapi yang meletus dan mengeluarkan api ke atas dengan semburannya yang banyak. Lalu, aku tidak menjawab apapun. Tapi, aku tau bahwa kakak hanya memarahiku seperti ini tapi dia masih menyayangiku sebagai adik kesayangannya. Lalu, aku pergi keluar ruangan dan berlari ke taman Square yang dekat dengan rumah sakit. Tapi, aku menemui nenek yang kutemui lalu. Nenek yang memberitahu aku sesuatu yang berharga. Tapi, pasti dia kecewa karena aku tidak melakukan sesuai dengan apa yang dia katakan. Lalu, aku mendekatinya dan berkata, “Nek, aku minta maaf. Karena aku sudah terlalu payah dalam melakukan sesuatu. Karena aku tidak tau harus berbuat apa. (menangis tersedu-sedu) dan karena aku, kakak rela mengorbankan matanya untuk mengganti mataku yang rusak karena ditabrak. Aku sangat menyesal nek. Semuanya salahku. Tidak ada yang salah selain aku. Aku sangat merepotkan bagi semuanya.” Tapi, nenek itu menjawab dengan senyuman, “baiklah, nenek akan memulai dari sini. Pasti kamu akan tau nenek siapa.” Lalu aku tambah bingung karena hal itu. Nenek meneruskan perkataanya, “Nama nenek Rena.” Lalu, aku terkaget dan melihatnya dengan tatapan yang terus menerus dengan bisu yang membakar mulutku sampai aku tak bisa berbicara. “akhirnya, kamu sudah bisa berbicara dengan normal seperti anak biasanya. Nenek senang denganmu Rena. Kamu anak yang baik. Cuma, kamu harus lebih baik lagi. Akhirnya, doa nenek terkabul untukmu. Agar kamu bisa berbicara dengan normal.” Lalu aku langsung berbicara dengan tegas, “tapi nek, bukannya nenek waktu itu sudah tertabrak dan tak bisa tertolong lagi ?” lalu nenek meneruskan kalimatku, “berterima kasihlah kepada kakakmu. Kakakmu lah yang membayar biaya penyembuhan nenek selama 30 hari itu. Dan beri salam kepada kakakmu, dari nenek Rena.” Lalu, nenek Rena pergi dan membuatku lebih banyak mengeluarkan air mata. Ternyata, nenek Rena juga masih hidup karena kakak membiayainya dengan semampunya agar nenek Rena bisa hidup kembali. Nenek Rena adalah salah satu seseorang yang kutolong saat kebakaran di rumahnya. Aku sangat senang saat itu. Karena momen itu, aku seperti seorang pahlawan. Lalu, aku berterima kasih kepada semuanya dan aku adalah diriku sendiri dan namaku Rena. Si anak autis yang tak pernah menyerah.

~THE END
       
       
        

     

Sabtu, 28 September 2013

TANGISAN MENTARI SENJA


TANGISAN MENTARI SENJA

       Pagi hari ku melihat awan sunyi di embun pagi yang dingin.melihat tas backpack yang besar sedang berdiri gagah dan menyandar ke dinding.hari ini adalah hari sabtu,dimana kemping penyelidikan alam akan pergi hari ini.Allan yang masih melihat jam dinding menunjukkan jam 5.30,masih ingin tertidur di tempat tidurnya yang empuk dan hangat.tetapi,dia tetap ingat bahwa shalat subuh lebih utama daripada tertidur nyenyak.akan ingat hal itu,Allan bangun dan mengambil air wudhu dan langsung menuju ruang shalat.dan dia pun akhirnya selesai shalat. “Allan,kamu sudah shalat kan ?” kata nenek sambil memegang sesuatu di tangannya. “Iya nek,memangnya kenapa ?” jawab Allan.nenek tersenyum simpul dan kembali memasak.”siapkan saja dulu barang-barangmu atau lihatlah dulu,siapa tau ada barang-barang yang belum dimasukkan” Allan langsung menjawab “Iya nek” Allan pergi ke kamar dan membuka res tasnya dan melihat barang-barang.mungkin,semuanya sudah ada di tas. “Allan,tolong masukkan ini ke tasmu (sebuah kotak berwarna oranye)” nenek memberinya sebuah kotak dan “ini apa nek ?” Allan masih bingung dan penasaran apa isinya.Allan melihat jam dinding ternyata,sudah jam 6.00.Allan langsung berlari ke kamar ayahnya dan membangunkannya.setelah ayah Allan bangun,mereka langsung pergi ke ruang makan dan sarapan bersama nenek.ibu Allan sudah meninggal 3 tahun yang lalu.semenjak Allan pulang dari kemping dan melihat bendera putih di depan rumah.tetapi,Allan tetap tabah menerima semua itu.dan melupakannya setelah 1 tahun berturut-turut.
        Allan diantar oleh ayahnya naik mobil dan mengangkut beberapa barang yang isinya begitu besar dan perlu bantuan untuk bawaan.Allan masih berpikir,bagaimana nanti dia akan berdiri gagah di gunung Resta.atau bisa dikenal di desa Ompa.yang banyak orang mengenalinya sebagai gunung alam tertinggi di kota Aspacheschet.Allan nanti akan pergi ke gunung itu bersama teman-temannya dan guru-guru pecinta alam disekolahnya (SMP OLIMPIQUE).setelah melewati bagian-bagian jalan,Allan berkhayal seperti di dunia mimpi menuju awal perjalanan ke kota rahasia tertinggi.sampai seperti itulah Allan berkhayal,atau bisa dibilang,khayalan yang terlalu jauh maknanya.
        Setelah sampai disekolah,Allan bertemu temannya yang biasa dipanggil Kevin.Kevin adalah teman kecil Allan.atau bisa dikenal sebagai Childhood friend.”Hai Allan.” Sapa Kevin.”Eh,Kevin.kamu juga baru sampai ya ?” Kevin mengangguk ya dan mereka berdua langsung mencium tangan ayah mereka masing-masing dan berlari masuk ke dalam lapangan sekolah untuk berkumpul. “Semuanya,tolong berkumpul dan berbaris dengan rapi.” Teriak pak George.Allan dan Kevin berbaris rapi dan bersampingan.mereka berdua tersenyum simpul karena akhirnya telah tiba dimana organisasi Pecinta Alam akan melakukan kemping yang luar biasa.mereka berdua mendengar penyampaian yang disampaikan pak George,setelah itu kembali ke tempat semula untuk melihat barang-barang dan bersiap untuk pergi dimana perjalanan yang luar biasa akan dimulai ! .
          Ting Tong,jam 8.35.waktunya untuk pergi.Allan dan kevin selalu bersama dan tidak mau terpisah agar mereka selalu bersama-sama melihat hasil penyelidikan alam yang akan mereka observasi nanti.dan kebetulan,mereka juga termasuk dalam 1 grup.begitu senangnya,mereka ingin melihat mentari senja bersama-sama.dan itu sebuah janji yang menjamin.setelah mereka semua masuk Bus,lalu “Allan,memangnya,kamu bawa apa semua ? di tas backpack-mu itu,banyak sekali yah bawaannya.” Heran Kevin selagi melihat tas backpack yang dipegang Allan.”Isinya ada baju,celana,alat mandi,alat eksplorasi,alat makan,makanan,dan lain-lain.” Kata Allan sambil menunjukkan jari.”memangnya,hanya itu saja ? tidak mungkin barang-barang seperti itu beratnya seperti sekarung besar.” Makin heran dan ingin makin tau.Kevin mengira,mungkin ada benda rahasia yang disembunyikan Allan di tas backpack-nya itu.”iya,hanya itu saja yang aku bawa.tidak ada benda aneh kok.” Allan menjawab dengan terampil dan rasa jujur dari lubuk hatinya bahwa dia tidak membawa apa-apa selain benda pokok yang dibutuhkannya itu.Kevin mengangguk dan masih bingung,apa isi dari tas backpack-nya itu.
           Setelah semuanya turun dari Bus,mereka merasa lega dan akhirnya bisa sampai di desa Ompa dengan selamat.dan,tas backpack Allan,menjadi pusat perhatian karena tasnya-lah yang paling berat dari semua tas yang diimiliki teman-temannya.Kevin mulai memata-matai Allan,bukan ingin mencela Allan,tapi Kevin adalah salah satu orang yang selalu ingin tau.dan juga bukan pembuat onar.Kevin adalah anak yang baik,tidak nakal,sombong,pembuat onar,dan lain-lain.hanya terisi sesuatu yang ganjil di hatinya yaitu ingin tau kepemilikan atau sesuatu yang rahasia dari orang-orang.sampai-sampai,dia nekat memberi apapun agar orang itu memberi tau rahasia yang dimiliki orang itu.tetapi,Kevin sedikit rendah hati jika dia dipuji dalam kepintarannya.itulah Kevin. “anak-anak,saatnya kita melakukan perjalanan ke lokasi pertama yaitu air terjun yang sangat dekat dengan lokasi kita sekarang ini yang bernama air terjun avira.apakah kalian siap ?” seruan pak George sangat membangkitkan semangat. “Siap pak !”  semua bersorak dan berteriak Yeyyy!
            Setengah perjalanan telah dilewati,ternyata,jalannya sangat susah untuk dilewati.banyak rintangan yang harus dihadapi.salah satunya batu-batuan yang mengikis jejak dan membuat mudah untuk terjatuh.hampir semua dari kami sudah kelelahan karena rintangan dan pendakiannya yang cukup menantang (bagiku).saat aku berjalan dan memegang batu yang agak tinggi dan disitu terdapat daun yang panjang,karena di saat itu,kakiku tidak dapat menahan lagi untuk menahan.jadi,aku menarik batu tinggi dan daun itu.tetapi,ada jalan yang menurun dan langsung menurun ke bawah.dan jjga penuh daun.“Allan !!!” semua memanggilku,termasuk pak George,aku terputar dan terjungkir balik di bawah sana.setelah itu,aku melupakan sesuatu yang berharga.
            Aku membuka mata dan melihat bunga melati di depanku.aku masih merasa pusing.aku sekarang ada dimana ?.aku masih kurang tau apa yang terjadi sebelumnya.tapi,aku tidak melupakan sesuatu penting.tapi,ada sesuatu yang berharga yang kulupakan.apa itu ?.aku melihat tas masih ada denganku.aku membuka tas dan mencari kotak P3K dan mencari alat-alat yang sesuai untuk menyembuhkan rasa sakit ini.tapi,aku butuh bantuan seseorang. “Tolong ! Tolong !”. tidak ada orang disini.aku tersesat.apa yang harus kulakukan ?.kenapa perjalanan yang menyenangkan seperti ini bisa jadi perjalanan yang sangat buruk ?.aku harus mencari jalan keluar dari tempat ini.setelah aku melihat beberapa tempat di sekitarku,semuanya telah ditutup oleh pohon-pohon dan dirimbuni oleh banyak pohon.aku sudah mulai depresi.mungkin,aku akan tidur disini dan melakukan tindak irasional dan lama-kelamaan akan menjadi orang gila.tidak !,aku tidak mau seperti itu.aku harus bisa mencari mereka dan kembali tepat jam 6 atas janjiku kepada Kevin dan pergi bersama teman-teman untuk meng-observasi tempat-tempat di desa ini.itu tujuanku yang sebenarnya.aku harus bisa.
            Setelah melewati bagian-bagian hutan dan melewati jalan keluar dari tempat tadi,aku menemui sungai dengan air yang sangat jernih.dan begitu segar.aku mencatatat dan meng-observasi air sungai tersebut berasal dari mana,tempat,dan letak posisi dan juga panjang sungai.1 catatan mini sudah ku-simpulkan dengan cara observasi.aku beranjak ke tempat lain dan melihat keadaan sekitar.mungkin,ada yang bisa kubuat lagi dengan cara observasi.dan dapat ku-simpulkan.dan jadi hasil laporan deh.
          Suara gemerisik datang dari dedaunan di sebelah sana.suara apa yah ? . mungkin hanya hewan.tapi,rasa penasaranku datang dan ingin beranjak ke tempat itu.lalu,ku beranikan diriku dan membuka dedaunan itu dan melihat di lubang kecil di samping daun atau di dalam kayu yang terdapat lubang kecil yang bisa digunakan untuk melihat.aku melihat sesuatu memakai baju berwarna oranye.siapa yah itu ? mungkin,teman kemping.aku langsung berdiri tanpa rasa ragu dan berjalan demi sedikit,dan “Permisi” aku mengatakannya dengan rasa takut.karena gadis ini berbalik dan wajahnya tak terlihat.aku mulai mengeluarkan keringat dan mulai khawatir apa yang akan terjadi padaku nanti ? mungkin,dia hantu. “Hahhh !!” aku berlari sekuat tenaga tanpa memikir apapun.dan aku merasa ditarik oleh seseorang.mungkin,gadis itu.aku mulai perlahan-lahan melihat ke belakang dan melihat gadis itu menunjukkan wajahnya yang oval dengan muka polos.aku tak berkata apapun dan gemetar didepannya.semuanya terasa diam dan tak ada suara usik apapun.aku menatapnya dengan malu dan merasa aneh.kenapa dia menarik tanganku begitu lama ?. aku mulai beranikan diriku dan berkata “maaf,ini sakit !” dia sepertinya mengerti apa yang kuucapkan. “maaf,aku hanya ingin berkenalan” akhirnya,dia menjawab. “namamu siapa ?” aku bertanya dengan terbata-bata.dia terdiam dan mulai merasa senang dan dia menarikku ke depan berlari sangat cepat dan dia berlari dengan iringan lagu yang ia nyanyikan.saking semangatnya,dia melompati batu dan tetap menarikku hingga ke suatu tempat yang tak kukenal.aku hanya merasa lelah,karena dia menarikku terus.dan akhirnya,dia berhenti di sebuah rumah daun yang begitu besar dan begitu alami.disitulah dia mulai menatapiku lagi. “ayo,ikut aku”. Aku mulai merasa heran lagi,kenapa dia hanya berbicara mengenai sesuatu yang tidak kutanyakan ?.aku pun mengikutinya dan masuk ke rumah daun itu.setelah itu,aku melihat banyak orang berbaju oranye ada dalam rumah ini.aku tak tau siapa mereka. “eumm,maaf,aku mengajakmu kesini.namaku Gracia Pollka,dan mereka semua keluargaku.senang bertemu denganmu” ucap Gracia dengan senyuman simpul di wajahnya. “oh,iya.terima kasih sudah mengajakku.namaku Allan Eren.senang bertemu denganmu juga.tapi,kenapa kau mengajakku untuk pergi kesini ?” Allan bertanya dengan jelas dan rasional.Gracia mulai menjawab dan “aku rasa,kamu sedang tersesat,jadi,aku mengajakmu kesini.karena kamu seperti orang yang kehilangan arah” senyum Gracia.aku sudah mengerti mengapa dia mengajakku kesini.tapi,kenapa mereka semua berbaju oranye yah ?.aku juga masih bingung. “Allan,tujuan kamu memangnya mau kemana ?” tanya Ibu berbaju oranye disamping Gracia.lalu,aku menjawab “aku ingin bertemu bersama teman-temanku.khususnya sahabatku,Kevin.aku tersesat saat aku jatuh dari jalan yang menurun dan terputar menurun.aku jadi ingin melihat mereka saat itu.karena memang,aku ingin menjelajah bersama mereka,meng-observasi bersama,dan lain-lain.tapi,kenapa sampai jadi seperti ini ? kenapa tidak seperti yang kuharapkan ?.aku masih bingung untuk mencari jalan keluar.” Aku pun tidak melewatkan kata satupun yang bisu.lalu,mereka semua terdiam dan Gracia berkata “Allan,bagaimana kalau kuta bersama mencari jalan keluar dari hutan ini ? karena aku hafal mati lho jalan di hutan ini.maupun jalan keluar dan jalan masuk.kamu mau ikut aku ?” lalu,setelah Gracia memberitahuku,aku langsung menjawab “baik,aku ikut !”
         “hati-hati dijalan yah Gracia !” kata ibu Gracia padanya.lalu,aku mengikuti Gracia sedang mencari jalan keluar yang cocok untukku.dan setiap jalan yang kulewati,selalu ada yang ku-observasi.lalu,jejak demi jejak dan lumpur yang lengket dengan sepatuku,selalu bersahabat denganku dan Gracia,yang sedangkan Gracia hanya merasa biasa saja tanpa memakai sendal atau sepatu.walaupun kakinya kotor,dia tak merasa ada keganjalan di tubuhnya.padahal,kakinya sudah sangatlah kotor.dan dia hanya merasa santai. “Allan,jalan terus ini dapat menembus langsung ke gunung Resta dan dapat langsung menuju air terjun.tapi aku kurang tau nama air terjun itu.mungkin kau bisa lewat jalan ini Allan” aku sangatlah merasa senang karena telah dibantu oleh Gracia dan “Terima kasih banyak Gracia,kau sudah banyak membantuku” Allan lalu berlari ke jalan itu dengan iringan lagu yang dibawa Gracia setiap dia berlari.tapi,Allan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 17.30.30  menit lagi.dari kapan aku terjatuh ? dan berapa waktu yang kuhabiskan untuk mencari jalan keluar ?.lalu,aku terus berlari sekencang mungkin dan Gracia tak kalah denganku,malah,dia yang berada didepanku sekarang.
          Akhirnya,telah sampai juga di inti gunung Resta.lalu,ku-ambil air minum dan meminumnya.sungguh lelah eksplorasiku bersama Gracia.tetapi juga,seperti petualangan yang menyenangkan. “Allan,disebelah sana,ada air terjun.mungkin,kau bisa dapat petunjuk dari sana untuk mencari teman-temanmu” Gracia berkata dengan wajah polos.sedangkan aku,hanya tersenyum dengan wajah yang penuh keringat dan tetesan air yang habis ku-minum. “Terima kasih Gracia,akhirnya,aku bisa sampai di gunung Resta dan juga sampai di air terjun.mudah-mudahan,aku dapat petunjuk dari sana.atau,mungkin mereka sedang mencariku.” Aku masih berpikir dalam pikiranku,apa mereka sedang mencariku atau tidak ? lalu aku terus berlari melewati air terjun,atau bisa dibilang,jalan kecil yang kulewati dekat air terjun dan jika 10 menit ini tidak bisa kugunakan sebaik mungkin untuk mencari mereka,maka,janji terbaikku akan putus dan akan menjadi janji yang terburuk selamanya.lalu,aku terus melanjutkan pencarianku bersama Gracia dan melihat keadaan,waktu maghrib sudah akan datang berarti,mentari senja pun juga sudah akan terlihat.aku mulai meneteskan air mata.dan berteriak “Teman-teman,kalian dimana ?”.Gracia hanya terpaku melihatku dengan rasa sedih dan wajah polos.karena aku tidak menemukan siapa-siapa.dan tersimpan rasa kecewa yang begitu dalam.lalu,tinggal 3 menit yang tersisa dan tidak ada hasil apapun atas hasil keringatku ini.lalu,aku menunduk kecewa dan menangis didepan Gracia yang sedang berdiri lurus.tapi,Gracia ingin mengatakan sesuatu.lalu,aku menaikkan wajahku dan melihatnya. “Allan,aku punya suatu permintaan” lalu,Aku merasa bingung. “permintaan apa Gracia ?” dengan tangan dingin,Aku menunggu jawaban dari Gracia.apakah permintaan itu ?. “Allan,bisakah aku meminta kotak oranye yang ada di tasmu ?” lalu aku terkejut dan kotak oranye itu kan dari nenek.dan mengapa Gracia tau bahwa kotak oranye ada di tasku.aku mengeluarkannya dan langsung memberikannya.setelah dia mengambilnya dia menyuruhku untuk berbalik ke belakang. “Allan !”. aku sangat terkejut mendengar suara itu,sepertinya,itu suara Kevin.lalu,tinggal tersisa 5 detik.aku berlari secepat mungkin ke tempat yang arahnya sebagai tempat melihat mentari senja yang sudah kujanjikan lalu dengan Kevin. 5....4....3....2....1....
          Tangisan pun muncul dari mataku.setetes demi setetes turun dan keluar melihat mentari senja.karena kukira,aku akan tersesat selamanya di hutan itu.lalu,aku dan Kevin melihat mentari senja bersama-sama.dan teman-temanku dan pak George mendatangi kami berdua.dan semuanya bersorak “Horrayyy!!” aku sangat senang hari ini.dapat bertemu mereka kembali.akhirnya,tujuanku terkabul.
          Setelah beberapa hari yang telah dilampaui,kami semua telah lulus test.karena,ujian observasi sudah selesai.dan akupun pulang dengan mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa bertemu di sekolah kembali semua.khususnya kepada Kevin.tapi,apa yang kulupakan yah ?.
          Setelah sampai dirumah,aku langsung menghampiri nenek dan banyak sekali pertanyaan yang aku ingin tanyakan pada nenek.nenek yang sedang duduk di teras belakang,aku langsung berdiri didepannya dan menanyakan berbagai hal. “nek,sebenarnya,kotak oranye itu isinya apa nek, ?” nenek tersenyum sambil menjawab “itu hanya kotak biasa Allan” aku tambah bingung dengan jawaban nenek.”kotak itu apa nek ?” aku bertanya dengan logat yang aneh.  Tapi,nenek tidak meresponku sama sekali.lalu,Kotak itu apa ? dan Gracia Pollka itu siapa ? “Gracia Pollka itu termasuk penghuni hutan itu Allan.kata nenek.” Lalu,aku terkejut dan “Ahhhh!!!...”

               ~THE END