NAMAKU RENA
Tinggal berapa hari,
aku akan pindah sekolah lagi. Aku sudah 30 kali pindah sekolah. Entah kenapa,
banyak sekolah tidak mau menerimaku. Apa aku salah ? apa aku nakal ? apa aku
aneh ? banyak pertanyaan yang aku tanyakan pada diriku sendiri. “Hei, Rena,
kamu dari tadi bicara sendiri. Normal sedikit dong !” bentak kakakku sambil
berbicara keras didepanku. Aku hanya tersenyum tanpa tangisan sedikit pun.
Karena setiap aku dimarah, aku tidak pernah menangis. Malah, aku tak pernah
menangis walau hanya 1 kali. Dari bayi juga aku tidak menangis. Kenapa yah ?
memangnya, perasaan saat menangis seperti apa ? aku penasaran. Lalu, aku biasa
disebut Autis disekolah. Autis itu apa yah ? dan orang-orang bilang aku selalu
memiring-miringkan kepalaku setiap aku berjalan di setiap jejak. Ada apa
sebenarnya denganku ?
sekarang, aku sedang makan di ruang makan. Aku suka makan ayam. Lalu,
kakakku melihatku dengan tatapan tajam yang berusik ketebalan hati yang kejam.
Aku selalu tersenyum setiap dia melihatku. Tapi, dia langsung menoleh
kebelakang. Setelah makan, aku langsung menemaninya menonton. Tapi, dia
langsung mendorongku kebelakang dan terjatuh. Aku hanya terdiam dan tak merasa
sedih. “Hey, kamu itu jangan sembarang ambil tempat duduk ! ini tempat duduk
aku !” dengan kejamnya, dia langsung pergi dan menendang kursi yang kutempati
tadi. Tapi, aku tidak berkata sepatah kata pun. Apa yang salah denganku ? aku
juga ingin minta maaf kepadanya. Tapi, tidak pernah bisa. Aku pun berlari ke
kamar dan langsung menutupi badanku dengan selimut hangat favoritku yang
bergambarkan bintang-bintang. Bagiku, itu sangat lucu. Dan aku pun tertidur
pulas dan bermimpi, apa yang akan terjadi besok ?
pagi hari, ku buka jendela dan menerima sinar matahari yang begitu silau
dan cerah yang langsung kuterima masuk ke dalam ruanganku. Tapi, sekarang jam 6
pagi. Berarti, waktunya untuk pergi ke sekolah baruku. Aku langsung berlari
kesana-sini tanpa ada rasa pikir apa yang harus kulakukan dahulu. “Hei,
cepatlah Rena, kamu nanti terlambat” kata ibu yang lembut langsung
memerintahkanku dengan kasih sayang. Lalu, aku mandi,menyiapkan buku,sarapan,
dan bersiap untuk pergi. Setelah itu, supirku sudah ada di mobil yang sudah
siap siaga untuk mengantarku dengan setia. Aku menaiki mobil dan tanpa salam
kuucapkan untuk ibu dan kakak. Tapi, aku memberi salam dari hati. Karena
menurutku, berbicara sangat rumit bagiku. “Non Rena sudah bawa bekal ?” aku
mengangguk iya dengan pantulan cermin yang ada disamping supir. Supaya lebih
mudah. Setelah itu, aku melihat sekolah baruku didepan mataku. LEMON HIGH
SCHOOL. Mudah-mudahan, sekolah ini dapat menerimaku. Aku tidak mau lagi
dikeluarkan dari sekolah. Aku sudah takut dengan hal semacam itu. Mudah-mudahan
tidak terjadi. Berlari dan menutup pintu mobil dengan melambaikan tangan kepada
supirku pak Alvin, dia tersenyum gembira. Lalu, aku menaikki tangga ke ruang
kepala sekolah yang begitu luas dan bertemu salah satu guru disitu. “Selamat
pagi, adik ini dengan adik siapa ?” aku tak bisa berbicara. Jadi aku hanya bisa
memakai bahasa tubuh. Tapi, dia langsung mengerti dan tau apa yang kukatakan
dengan bahasa tubuh. “kamu pasti dengan adik Rena Juice kan ?” lalu, aku kagum
dengan ibu guru yang ada didepanku ini. Kenapa dia bisa tau ?
ibu ini mengantarku ke sebuah kelas.
Yang bernama kelas 1-G. Setelah ku-masuk, ada banyak orang yang menungguku.
Entah kenapa, mereka sebuah mengatakan “Selamat pagi Teman !” aku merasa heran.
Tapi, aku sangat gembira dengan sapaan seperti itu. Lalu, aku maju di depan mereka
dengan didampingi ibu guru yang baik hati ini. “jadi, teman-teman, kita punya
teman baru. Namanya Rena.” Semua langsung mengatakan “Hai Rena !!” aku kaget
dengan semua salam pembuka ini. Begitu berbunga-bunga hatiku. Dan Ibu guru
disampingku menjelaskan identitas diriku secara rinci dengan singkat. Lalu, Ibu
ini memberiku tempat duduk di barisan ke-3 sebelah kanan. Aku sangat senang
diperlakukan seperti ini. Mudah-mudahan, aku punya banyak teman di sekolah ini.
Panas matahari yang silau menatapku
dengan lipatan pencerahan dalam diriku inilah yang dapat membuatku semangat
bersekolah disini. Lalu, aku melihat mereka melakukan hal yang seperti biasa
setiap hari. Hal yang wajar dilakukan para siswa. Mereka selalu menyapa dan
memberi salam setiap bertemu. Tapi, disekolah ini, ada mata pelajaran yang
namanya pelajaran Pembina. Dan pelajaran Pembina itu akan dilaksanakan setiap
hari sabtu yang paling akhir. Dan aku tidak tau itu pelajaran apa. Mungkin, aku
bisa bertanya kepada teman-teman. Tapi, aku tetap tak bisa berbicara. Jadi,
bagaimana bisa aku tau. Lalu, aku memakan bekal dari rumah buatan Ibuku yang
dibuat dengan senang hati. Nasi gorengnya begitu enak. Sampai aku ingin minta
tambah. Ketagihan memakannya. Setelah aku makan, aku keluar dari kelas dan
berjalan ke seluruh sisi sekolah. Sekolahnya begitu luas. Dan aku tak tau aku
sudah dimana. Lalu, ada seseorang menolongku. Dia datang dan mengantarku ke
kelas 1-G. Tapi, dia tidak memberitahu namanya. Tapi, dia ada dikelas 1-A.
Mungkin, aku akan pergi ke kelasnya lain kali. Suara seruan yang unik datang
dari kelasku. Dan aku melihat,mereka sedang bermain. Tapi,aku tidak ikut.
Karena aku lambat. Kelas ini seperti ada yang aneh. Anak-anaknya seperti
diriku. Mereka seperti kehilangan kontrol, dan juga Hyperactive. Dan aku tak
tau maksud kelas ini. Yaitu kelas 1-G.
Pulang dari sekolah, angin menembus
diriku seperti tusukan pedang yang transparan. Lalu, aku mengerjakan PR dirumah
tanpa ada bantuan siapapun. Tapi, aku dapat mengerjakannya dengan mudah. Karena
memang, aku suka pelajaran Matematika. Aku sangat senang pelajaran Matematika,
nilai-ku selalu 100. Tapi, bukan hanya aku. Hampir semua di kelasku memiliki
nilai 100 atau sempurna dalam pelajaran Matematika. Memangnya, ada apa dengan
kelas 1-G ? seperti ada yang aneh. Atau mungkin, ada hubungannya dengan diriku
?.
Goes to School Again, aku sekarang ada
di LEMON HIGH SCHOOL lagi. Begitu senangnya. Sekolah ini penuh dengan
kegembiraan. Semuanya menyapaku. Dan juga memberi salam. Aku sangat penasaran
pelajaran Pembina itu. Hari ini hari Jumat. Besok akan ada pelajaran Pembina.
Mungkin, aku bisa mempelajari dengan senang hati. Saking penasarannya, aku
sampai lompat-lompat kesana dan kesini dengan pipi merah yang gendut. Lalu, aku
melihat kelas 1-A,B,C dan seterusnya. Semua kelasnya seperti biasa, atau bisa
dibilang Normal. Tapi, kelas 1-G lebih berbeda. Anak-anaknya berbeda dengan
kelas lain. seseorang mendatangiku dan berkata, “Eumm, kamu kan yang kemarin,
namamu Rena kan ? salam kenal. Aku Budi.” Dia berkata seolah ingin
memperkenalkan dirinya. Lalu, aku mengangguk karena tidak bisa berbicara. “Ohh,
kamu tidak bisa berbicara yah...? baiklah. Eumm, kamu tau tidak bedanya kelas
1-G dengan kelas Lainnya ?” aku kaget dan ingin bertanya kembali mengenai itu.
Lalu, aku mengangguk kembali. Dan dia menjawab, “kalau kelas 1-G itu adalah
kelas Spesial. Yang anak-anaknya Autis dan Hyperactive. Tapi, nilainya tidak
kalah dengan kelas Lainnya. Aku terkagum-kagum mendengarnya tentang hal itu.
Aku juga ingin pindah ke kelas itu. Tapi, aku tidak autis. Jika saja autis, aku
pasti dikelas itu.” Dia mengatakan sejujurnya bahwa kelas 1-G itu hanya untuk
para anak autis. Tapi, kelas lain tetap menghargai kami sebagaimana anak biasanya.
Hari sabtu, hari yang kuingin-inginkan.
Akkhirnya datang juga. Setelah menunggu ketiga pelajaran selesai, pelajaran
Pembina telah dimulai. Aku melihat seorang guru wanita berdiri tegak didepan
kami semua dan mengatakan Selamat pagi. Kami semua membalas salam tersebut. Aku
hanya ingin tau materi pembelajaran ini. Lalu, aku memperhatikan materi yang
dijelaskan ternyata, materi ini mengenai pembelajaran tentang anak autis dalam
bersikap normal. Aku ditanya oleh Ibu Karen (Ibu yang mengajari pelajaran
Pembina) bagaimana caranya berbicara. Lalu, aku juga tak bisa menjawab karena
aku tak tau berbahasa. Tapi, Ibu Karen mengajariku satu per-satu dari huruf
Alphabet, mengeja, mengucapkan, sampai cara berbicara. Dengan metode ini, aku
sudah mengerti cara berbicara yang benar. Karena waktu TK, aku tidak pernah
mengerti cara berbicara atau bersosialisasi. Tidak tau apa alasannya. Tapi,
pembelajaran ini dapat membuatku lebih bersemangat dan menambah ilmu untuk
menjadi Normal. Mudah-mudahan, kakak akan menjadi lebih baik kepadaku karena
pembelajaran ini.
“aku puelang...!!!” kataku dan
berteriak. Ibu dan kakak terkaget-kaget mendengar ucapan itu. Sampai masih
belum percaya yang mengucapkan itu adalah aku. Mereka berdua hanya menatapku
sebatas tatapan biasa saja. Tapi, tatapan itu penuh dengan sesuatu yang tak
terduga. Sampai didepan kamarku, aku merasa pusing dan seperti kehilangan akal.
“Aduh..!” rasa sakitnya semakin bertambah. Ada apa ini ?. padahal, hari ini
tidak terjadi sesuatu padaku. Aku melihat Ibu dan kakak mendekatiku dan
menggendongku ke suatu tempat. Aku melihatnya masih dengan keadaan buram. Aku
pingsan dan hilang akal. Apa yang terjadi padaku ?.
Hari ini hari yang cerah. Panas
matahari yang silau dengan pancaran sinarnya yang begitu terang memantul ke
arahku seolah aku seperti tak berdaya. Tapi, memang, sekarang ini aku sedang
tidak berdaya. Dan yang lebih baik, syukur aku ada dirumah. Bukan dirumah sakit
yang punya banyak pasien yang membuatku sakit kepala. Tapi, aku melupakan sesuatu
hal. Hal yang berhubungan dengan kondisiku sekarang ini. Oh ya, aku jatuh dan
kakak dan Ibu menggendongku ke suatu tempat, sepertinya, tempat itu seperti
ruang dokter. Mungkin, aku habis diperiksa oleh dokter dan akhirnya, aku hanya
dibawa kerumah karena penyakitku belum terlalu memberi dampak yang parah. Jadi,
aku hanya bisa dirawat dirumah.
Suara jejak kaki mendekat dan mendekat.
Dan akhirnya sudah ada didepan pintu kamarku. Dia membuka pintu dan
kulihat,ternyata ibu. Ibu datang dengan wajah sedih. Apakah itu ?. lalu,
seolah-olah Ibu seperti ingin mengatakan sesuatu. “Rena, kamu tau tidak, salah
satu penyakit yang kamu miliki adalah penyakit Anemia. (meneteskan air mata)
tapi, ada sesuatu yang Ibu ingin katakan kepadamu. mulai besok, kamu akan
dirawat dirumah sakit karena penyakit Anemia-mu semakin parah dan rumah sakit
akan bertindak secara cepat mengenai penyembuhannya Rena. Karena kamu kan mudah
capek, jadi, Anemia yang kau derita itu akan datang secara sendirinya. Jangan
sedih yah Rena.” Sambil mengelus rambutku dan aku masih merasa sedih mengenai
hal itu atas penyakitku. Padahal, lusa, akan ada lomba cerdas cermat
matematika. Masih bisakah aku mengikuti kompetisinya ?
Aku melihat kakak yang sedang
memikirkan sesuatu yang sedih. Padahal, biasanya dia menghinaku. Ada apa
dengannya ?. lalu, aku mendekatinya dan menatapnya. Tapi, dia tidak marah sama
sekali kepadaku. Aku pun pergi ke ruang makan tapi tidak ada makanan sama
sekali. Jadi, aku pergi ke teras rumah dan melihat bintang-bintang di langit.
Sebenarnya, ada apa denganku sekarang ini ?. Ya Allah, tolong aku untuk mencari
jalan keluar dari semua permasalahan ini. Tapi aku belum tau jelas mengenai
permasalahan apa ini. Lalu, aku melihat seorang nenek lewat didepan rumah dan
memanggilku dengan tangan kanannya. Aku takut dan gemetar. Tapi, semakin aku
menjauh darinya, dia semakin melotot. Dan bermata tajam. Lalu, aku
perlahan-lahan mendekatinya. Dan dia mengajakku berjalan ke suatu tempat. Lalu dia
mulai berbicara padaku, “Siapa namamu Nak ?” lalu aku menjawab, “Niamako Rena”
aku masih saja berbicara kurang jelas. Tapi, nenek ini mengerti apa yang
kukatakan. “Rena, boleh kau ikut aku sebentar ?” lalu, aku menjawab, “Tiapi
nek, kemana ?” dia tak langsung menjawab melainkan hanya diam tanpa batas.
Lalu, ada sebuah taman yang besar didepanku yang penuh dengan bunga-bunga
berwarna. Tapi, aku masih tidak mengerti mengapa nenek membawaku kesini ?.
hembusan angin malam yang dingin membuatku ingin tertidur tapi aku masih diluar
rumah. Dan aku belum meminta izin kepada Ibuku untuk pergi keluar. Dan mungkin,
mereka akan lebih khawatir. “Nek, ako Huarus Polang. Karena nanti, ibu aku
khawatil.” Tapi nenek ini memegang tanganku dan memberiku tempat duduk yang panjang.
Dan nenek ini mulai berbicara kepadaku, “Rena, Nenek hanya akan memberitau
sesuatu bahwa, hal yang kau bisa lakukan, lakukanlah sebaiknya. Dan penyakit
yang kau derita itu,nenek yakin kau pasti akan sembuh. Dan lomba yang kau ingin
ikuti itu, kau juga bisa mengikutinya. Tapi dalam 1 hal, kau bisa melakukakan
semua itu dengan caramu sendiri atau carilah jalan keluar agar bagaimana kau
bisa berpihak pada keduanya.” Lalu, nenek ini tau semua yang ada dalam benakku.
Memangnya, nenek ini siapa ?. aku berbalik kepadanya dan dia menghilang begitu
saja. Rasaku aneh terhadap semua ini. Tapi, hal-hal yang dikatakan kepadaku itu
benar. Aku akan terus mencobanya untuk mencari jalan keluar dari permasalahan
ini. Walau aku autis, aku pasti bisa. Aku pasti bisa melakukannya.
Aku tidur di tempat tidur yang empuk
dan didampingi oleh alarm jantung yang terus berbunyi. Aku masih pusing dan aku
tidak tau harus melakukan apa. Tapi, besok adalah harinya. Hari dimana lomba
cerdas cermat matematika akan dimulai. Melihat jendela dengan lirikan hujan
yang menatap sedih di pintu kegagalan, aku seperti merasa sangat menyesal.
Karena kenapa sampai aku dirawat dirumah sakit ? aku tidak mau dirumah sakit
seperti ini. Seperti orang lemah saja. Aku hanya mau dirumah. Aku hanya ingin
belajar lebih giat lagi di sekolah dan memenangkan lomba cerdas cermat. Tapi,
impian itu semua tidak berhasil. Aku menangis dalam hati dan beberapa menit
kemudian, aku mengeluarkannya setetes demi setetes. Lalu, aku menutup mata dan
tertidur nyenyak dan memimpikan jika hal kemenangan itu terjadi.
Suara usik membangunkanku tak tau
asalnya dari mana. Tapi, suaranya semakin keras dan semakin terdengar. “Adik
Rena, Bangun dek. Waktunya makan. Setelah itu, minumlah obatnya.” Ternyata
suster yang merawatku tadi pagi. Dan juga yang memasang impus tadi. Lalu, aku
terbangun dan langsung duduk dan makan makanan yang ada di meja sampingku yang
berwarna biru. Kenapa hari ini aku lemas sekali ? ada apa denganku ? aku
merasa, aku kekurangan darah. Aku pusing. Aku terjatuh dari tempat tidur dan
memegang kepala dan memberantakkannya. Rambutku berantakan karena itu. Lalu,
dokter dan suster datang untuk mengantisipasi dan aku tertidur lagi. Apa yang
harus kulakukan jika terus seperti ini ?
Sekarang jam 8 malam sedangkan tadi jam
4 sore. Aku tidur hanya memakan banyak waktu saja. Aku seperti orang gila
berdiam disini. Aku juga belum makan. Tapi, aku melihat sup ayam dan nasi
disampingku sudah tersedia diatas meja. Dengan tambahan ayam goreng super
pedas. Lalu aku mencicipinya. Begitu enak. Senyuman simpul muncul dari bibirku.
Aku tak tau kenapa, baru kali ini aku merasa masakan yang sangat lezat seperti
ini. Lalu, ku minum obatku dengan catatan tertempel di botol obatnya. Tertulis
–minumlah ini 3 kali sehari. Semoga cepat sembuh *Ibu- ternyata ini ibu.
Memangnya, ibu dan kakak kemana ? kenapa meninggalkanku sendirian ?. aku merasa
bosan disini. Jadi, aku pergi keluar dan melihat banyak orang yang sedang
menjenguk, sedang melapor, sedang sakit, dan ada juga yang sedang tidur di
ruang tunggu. Ternyata, disini juga banyak orang. Kukira, rumah sakit ini
kurang dikunjungi pengunjung yang berobat. Tapi, aku terus memegang janji nenek
yang kutemui lalu, lakukanlah sebisamu. Aku pasti bisa melakukannya. Besok,
adalah tujuanku. Hari dimana aku harus bisa melakukan keduanya. Apakah aku bisa
mengikuti cerdas cermat matematika atau tidak ? aku berdoa, agar aku bisa
memecahkan permasalahan ini. Tapi bagaimana caranya ? sedangkan aku ada dirumah
sakit dan aku sekarang tak berdaya. Sedangkan cerdas cermat matematika akan
dimulai tepat jam 10 pagi. Apakah aku harus kabur ? ya. Itu satu-satunya jalan
untuk aku keluar. Tapi, bukankah itu salah ?. Aaaa.... aku terlalu banyak
berpikir. “Adik Rena sekarang sudah boleh tidur ? jangan sampai kemalaman.
Nanti, tambah sakit lho.” Ujar suster yang ada dibelakangku. Lalu aku
mengangguk iya dan dia mengantarku ke ruanganku sebelumnya.
Suara merdu dari burung-burung
terdengar sampai ke dalam ruanganku. Begitu indahnya sampai aku terbangun dan
melihat keadaan sekitar. Sekarang jam 6 pagi. Dan aku masih ada di ruangan ini
yang begitu dingin karena pengaruh AC. Tapi, aku masih mengingat bahwa hari ini
akan dimulainya cerdas cermat matematika. Tapi, apa yang harus kulakukan
sekarang ?. apakah aku mandi dulu ?. setelah kuputuskan bahwa aku harus
mempersiapkan diriku terlebih dahulu. Aku mengambil secarik kertas dan buku
cetak matematika dan membacanya per halaman. Lalu, setelah itu aku mandi dan
mengganti baju pasien ini menjadi baju putih. Jam 7 tertera di jam dinding
sekarang. Aku sudah menyiapkan tas, memakai sepatu, dan lainnya. Lalu, kubuka
pintu keluar dan berjalan menjinjit melewati suster yang sedang merapikan meja.
Dan akhirnya kudapat tangga untuk turun ke lantai 1. Aku berjalan tanpa ada
suara, dan melihat di sekitarku, apa adakah seseorang mengawasiku ?. aku
akhirnya sampai di lantai 1. Dengan perjuangan setengah keringat ini, bisa
dibilang juga perjalanan yang lumayan. Padahal hanya sebatas menuruni tangga.
Jejak kaki yang terus bergerak melewati satpam penjaga rumah sakit dan syukur
dia tidak melihatku. Tapi, satpam itu menoleh ke arahku dan akhirnya dia
melihatku. Lalu pak satpam mengejarku tanpa arah dan mengatakan, “Ada pasien
kabur...!!!” aku semakin gemetar dan berlari menuju tengah jalan tapi, aku tak
melihat kendaraan akan lewat didepanku. Lalu, aku mendegar bunyi sesuatu yang
sangat nyaring dari belakang. Dan Ternyata,,
Aduh, sakit !!. sangatlah perih. Aku kenapa ?. tapi, aku bisa bernapas,
tidak pusing, tapi hanya sakit di bagian mata. Lalu, ku buka perlahan-lahan
mataku. Sepertinya biasa saja. Tapi, seperti ada yang lengket di dalamnya. Aku
kenapa ?. aku mencari cermin untuk melihat kondisi wajahku. Ada apa dengan
wajah dan mataku sekarang ini ?. dan cermin itu ada di dalam lemari biru yang
tepat ada disampingku. Lalu, ku lihat wajahku. Dan melihat mataku sepertinya
lain dengan yang satu. Yang bagian kiri berwarna coklat. Dan bagian kanan
berwarna biru. Kalau tidak salah, yang mempunyai mata berwarna biru, itu
kakakku. Kakak Liana. Lalu, aku pergi ke semua ruangan. Tapi, aku tidak
menemuinya. Dan yang terakhir, ruang operasi. Saat kubuka, ada ibu dan kakak
Liana saling berbicara dan ditambah senyum mereka masing-masing yang mereka
berdua perlihatkan kepadaku. Aku tidak bisa menahan lagi. Aku menangis dan
memeluk kakak Liana dan ibu. Mereka berdua hanya tersenyum dan berbicara
kepadaku. “Rena, kamu tidak apa-apa kan ?” kata ibu dengan sentuhan halusnya
menyentuh rambutku. “Iya bu, aku tidak apa-apa.” Aku menjawab dengan muka sedih
dengan tatapan polos. Lalu, kakak Liana langsung meneruskan, “Eh Rena, kamu itu
sebenarnya ndak usah pergi keluar sana. Akhirnya, matamu kan yang jadi bahaya.
Kamu nggak kasihan lihat kakak seperti ini yang sudah memberi satu mata
kepadamu ? sudah tidak berterima kasih lagi.” Bentak kakak yang memarahiku
tanpa batas dengan jiwa yang penuh dengan emosi seperti gunung berapi yang
meletus dan mengeluarkan api ke atas dengan semburannya yang banyak. Lalu, aku
tidak menjawab apapun. Tapi, aku tau bahwa kakak hanya memarahiku seperti ini
tapi dia masih menyayangiku sebagai adik kesayangannya. Lalu, aku pergi keluar
ruangan dan berlari ke taman Square yang dekat dengan rumah sakit. Tapi, aku
menemui nenek yang kutemui lalu. Nenek yang memberitahu aku sesuatu yang
berharga. Tapi, pasti dia kecewa karena aku tidak melakukan sesuai dengan apa
yang dia katakan. Lalu, aku mendekatinya dan berkata, “Nek, aku minta maaf.
Karena aku sudah terlalu payah dalam melakukan sesuatu. Karena aku tidak tau
harus berbuat apa. (menangis tersedu-sedu) dan karena aku, kakak rela
mengorbankan matanya untuk mengganti mataku yang rusak karena ditabrak. Aku
sangat menyesal nek. Semuanya salahku. Tidak ada yang salah selain aku. Aku
sangat merepotkan bagi semuanya.” Tapi, nenek itu menjawab dengan senyuman,
“baiklah, nenek akan memulai dari sini. Pasti kamu akan tau nenek siapa.” Lalu aku
tambah bingung karena hal itu. Nenek meneruskan perkataanya, “Nama nenek Rena.”
Lalu, aku terkaget dan melihatnya dengan tatapan yang terus menerus dengan bisu
yang membakar mulutku sampai aku tak bisa berbicara. “akhirnya, kamu sudah bisa
berbicara dengan normal seperti anak biasanya. Nenek senang denganmu Rena. Kamu
anak yang baik. Cuma, kamu harus lebih baik lagi. Akhirnya, doa nenek terkabul
untukmu. Agar kamu bisa berbicara dengan normal.” Lalu aku langsung berbicara
dengan tegas, “tapi nek, bukannya nenek waktu itu sudah tertabrak dan tak bisa
tertolong lagi ?” lalu nenek meneruskan kalimatku, “berterima kasihlah kepada
kakakmu. Kakakmu lah yang membayar biaya penyembuhan nenek selama 30 hari itu.
Dan beri salam kepada kakakmu, dari nenek Rena.” Lalu, nenek Rena pergi dan
membuatku lebih banyak mengeluarkan air mata. Ternyata, nenek Rena juga masih
hidup karena kakak membiayainya dengan semampunya agar nenek Rena bisa hidup
kembali. Nenek Rena adalah salah satu seseorang yang kutolong saat kebakaran di
rumahnya. Aku sangat senang saat itu. Karena momen itu, aku seperti seorang
pahlawan. Lalu, aku berterima kasih kepada semuanya dan aku adalah diriku
sendiri dan namaku Rena. Si anak autis yang tak pernah menyerah.
~THE END